Home Beasiswa Luar Negeri Bercita –cita masuk SMK, Bagaimana Bisa Farizal Hakiki Lulus Sarjana dan Langsung...

Bercita –cita masuk SMK, Bagaimana Bisa Farizal Hakiki Lulus Sarjana dan Langsung PhD di KAUST, Arab Saudi?

1715

Jangankan untuk mengambil PhD, untuk mengambil jenjang sarjana saja awalnya Farizal hakiki ragu. Tujuan awalnya adalah ingin segera lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan jadi cita-citanya adalah masuk SMK. Namun karena suatu alasan ia memutuskan untuk melanjutkan di SMAN 1 lawang, Malang.

Selepas SMA ia mendapatkan beasiswa penuh dari ITB melalui beasiswa ITB untuk Semua (BIUS). Hari demi hari menjalani kuliah di ITB, ia pun terlena dengan ilmu pengetahuan dan akhirnya mengantarkannya ke Timur Tengah, di Universitas KAUST, Arab Saudi.

Awal mula ia mendaftar di KAUST terjadi ketika kegagalan demi kegagaln dalam meraih beasiswa pascasarjana yang ia alami. Hingga akhirnya salah seorang rekannya mengusulkan untuk mendaftar beasiswa di universitas KAUST.

Mendengar kata timur saja ia sudah berfikiran bahwa semuanya mahasiswa tidak ada mahasiswinya, tidak ada bioskop, cuaca panas dan harus belajar terus. Lalu iseng – iseng ia mengetikkan kata KAUST di google dan mendapatkan hasil diluar ekspektasinya. Ternyata KAUST adalah universitas pertama di Arab saudi yang mahasiswanya campur antara laki-laki dan perempuan, dosen-dosen disana juga mempunyai indeks penelitian yang menakjubkan.

Ia pun langsung tertarik pada program MS/PhD dan langsung menghubungi Professor sesuai dengan bidang risetnya. Hal ini karena sebelumnya ia telah mendapatkan wejangan dari dosennya di ITB bahwa PhD itu yang dicari adalah professor yang sesuai bidang riset bukan universitasnya.

Tahap awal yang ia lakukan ialah mengutak atik website KAUST untuk menemukan professor sesuai dengan bidangnya. Karena jurusan awal dan riset yang ia minai mengenai teknik perminyaan ia pun mencari profesor yang melakukan riset dengan bidang yang berkaitan dengan bidangnya tersebut.

setelah mencari beberapa profesor ia pun beranikan diri untuk mengirimkan email pada mereka, beberapa diantaranya ditolak dan ada juga yang tidak memberikan balasan. Sampai akhirnya pada awal februari ia menemukan nama professor J. Carlos Santamarina yang berasal dari Georgia Intitute of Technology dengan ahli beliau di bidang eksperimental. Masih penasaran dengan profilnya ia pun menelisik paper – apernya dan ternyata sesuai dengan bidang risetnya. Ia pun menghubungi profesor tersebut melalul email.

Menginjak bulan April Farizal baru mendapatkan balasan bahwa profeor Carlos mendukung aplikasinya. Ia pun diminta untuk menyiapkan TOEFL dan GRE. Lalu ia menjelaskan kendala pendaftarannya yang belum ada kabar karena belum mendapakan professor. Sang Profesor pun langsung menguruskan aplikasi pendaftaran Farizal dan keesokan harinya mengadakan interview  dengannya melalui skype.

Hampir finalisasi aplikasi Profesor Carlos yang semula menanyakan kabar aplikasi Farizal mengabarkan bahwa aplikasinya sudah berada pada tahap screening tahap 3. Hingga akhirnya pada bulan Mei, ia mendapatkan undangan interview  dari admission committe  tanggal 25 Mei 2015. Dua hari kemudian ia pun mendapatkan kabar bahwa ia diterima di KAUST. Alhamdulillah, perjuangan tak kenal lelah Farizal membuahkan hasil yang sangat manis.

Referensi :

http://kaustina.org/farizal-hakiki-perjuangan-tak-kenal-putus-asa/

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here