Home Kuliah di Australia 2 Kali Gagal, Fitri H. Oktaviani Malah Mendapatkan Beasiswa ADS untuk S2...

2 Kali Gagal, Fitri H. Oktaviani Malah Mendapatkan Beasiswa ADS untuk S2 dan S3 dalam Kurun Waktu 7 Tahun

2204

Pada tahun 2010 lalu Fitiani H. Oktaviani mendapatkan beasiswa dari Australia Award Indonesia (AAS) atau Australia Development Scholarship (ADS) untuk studi S2-nya. beasiswa ADS merupakan beasiswa binternasional bergengsi yang disediakan oleh pemerintah Australia bagi masysarakat Indonesia yang concern pada bidang pembangunan Indonesia.

jumlah aplikasi setiap tahunnya mencapai 3000 – 4000 lebih aplikasi. Tahun 2016, dimana ia mendaftar beasiswa tersebut untuk studi S3-nya aplikasi yang diterima ADS sekitar 3300 aplikasi. Dari aplikasi tersebut hanya 300 pendaftar yang dinyatakan sebagai penerima beasiswa.

Meskipun yang diterima 300 orang proses mendapatkannya tidaklah mudah, 85{d9775817d1000b7b9cd87670de73f89ee785f44791f9392668bc2eef96b49779} beasiswa diperuntukan untuk master (S2) dan sisanya untuk PhD (S3). Yang lebih memberatkan bagi Fitri pada saat mendaftar ADS pada tahun 2016 adalah diterapkannya kuota oleh AAI. Mereka membagi wilayah- wilayah yang menjadi prioritas penerima beasiswa yakni GFA (Geographic Focus Area) dan Targeted institutions.

GFA artinya ada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia yang mendapat prioritas dan porsi lebih (tahun ini misalnya Aceh, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur). Sedangkan targeted institutions yakni menargetkan institusi-institusi pemerintahan pusat (kementrian. Sisanya baru bisa diperebutkan oleh peminat not tergeted baik PNS maupun swasta. Adapun studi S3 hanya terbuka bagi staf pendidikan tinggi, institusi riset dan kandidat posisi senior yang membutuhkan riset dalam pekerjaanya.

Proses Fitri mendapatkan beasiswa ADS tidak berlalu begitu saja. Pada aplikasi beasiswa S2-nya ia sempat mengalami kegagalan yakni pada tahun 2006 dan 2007. Kesalahan yang dilakukan pada waktu itu adalah mengirimkan sertifikat TOEFL prediction yang ternyata tidak diijinkan.

Selanjutnya ia melakukan persiapan yang lebih matang untuk percobaan ketiganya pada tahun 2009. Ia membaca lagi syarat dan ketentuan beasiswanya lebih detail dan menyiapkan sertifikat TOEFL institusional yang dilegalisisir. Pada aplikasi pendaftaranpun ia juga melakukan pengecekan ulang sebelum akhirnya dikirim ke pihak ADS.

Adapun untuk proses mendapatkan beasiswa S3-nya pada tahun 2016 ini ia lebih yakin dan tenang karena ia sudah memahami terlebih dahulu sebelumnya syarat beasiswa ADS. Sebagai kandidat PhD, sebelumnya ia harus menyiapkan proposal riset dan mengantongi 2 srat rekomendasi sari superviso S2. Sebelum mengirimkan aplikasi ia juga berkonsultasi dengan mantan supervisor S2nya di University of Queensland dahulu terkait dengan proposal riset S3-nya.

ia pun mendapatkan masukan yang luar biasa dan segera membenahi proposal tersebut sebelum dikirim. Baginya pendaftaran beasiswa ADS 2016 ini lebih mudah daripada 2009 karena seluruh aplikasi dilakukan secara online. Selain itu, untuk beasiswa S3 tidak perlu memiliki LoA terlebih dahulu cukup dengan menghubungi profesor di Australia untuk jadi supervisornya.

Pada tahun 2016 deadline pengumpulan beasisw ADS adalah bulan April. Lalu pertengahan Juli ia mendapatkan email bahwa ia msuk dalam daftar shortlisted  dan diundang untuk wawancara di surabaya. Tes IELTS dilakukan akhir Juli dan interview JST pada awal Agustus. Persiapan lebih bagi pelamar S3 adalah adanya presentasi riset selama wawancara dengan 2 akademisi Australia dan 2 akademisi Indonesia. ia pun menyiapkan presentasi selama 10 menit sebaik mungkin dengan bahasa inggris.

Selanjutnya adalah saat –saat penantian menunggu keputusan diterima atau tidak. Sebelum pengumuman terjadi tepatnya 25 Agustus 2016 ia sudah dikirimi CD berisi profil universitas di Australia. Lalu pada 6 September 2016 ia mendapatkan notifikasi email bahwa ia dinyatakan sebaia penerima beasiswa ADS dan akan melaksanakan studi pada tahun 2017. Bena-benar perjuangan yang tak mudah, meski pernah gagal ia tak lantas berhenti untuk mencoba hingga akhirnya bisa mendapatkan beasiswa S2 dan S3. Alhamdulillah.

 

Referensi :

http://fitrihoktaviani.lecture.ub.ac.id/tag/beasiswa-aas/page/2/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here